Selasa, 27 April 2021

STRATEGI LITERASI MEDIA YANG EFEKTIF TERHADAP MASYARAKAT

 

Strategi literasi media yang efektif terhadap masyarakat

Diajukan untuk memenuhi UTS Produksi Media Digital

 

 

 


 

 

 

 

 


 
 

Disusun oleh:

Muhammad Nur Fikri

201810415198

 

 

 

 

Fakultas Ilmu Komunikasi

Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

2021

 

BAB I

Pendahuluan

1.    Latar Belakang 

 Kehidupan media massa semakin pesat berkembang, seperti televisi, radio, koran, majalah, dan sebagainya. Di Indonesia, media televisi masih banyak digemari dan dibutuhkan masyarakat. Televisi merupakan media berbentuk audio visual, gabungan antara gambar dan suara dengan berbagai konten yang dikemas sedemikian menarik di dalamnya.

Hal di atas merupakan penyebab masih banyak masyarakat yang sepenuhnya percaya atau “termakan” isi tayangan televisi. Seperti budaya konsumerisme yang disebabkan oleh sajian iklan-iklan, nilai sosial dari televisi yang kemudian diadaptasi ke kehidupan sehari-hari, tayangan yang tidak mendidik berupa konten kekerasan baik kekerasan fisik maupun kekerasan non fisik, konten poronografi, dan sebagainya.

Perkembangan media baru berupa internet dapat dilihat dari melesatnya penggunaan internet di Indonesia dalam beberapa fenomena, antara lain yang pertama berkembangnya titik-titik wifi atau hotspot di berbagai lokasi seperti kampus, sekolah, pusat perbelanjaan, pusat kota hingga pelosok desa. Kedua, operator telepon seluler menawarkan paket data internet bagi para konsumennya dengan harga dan layanan yang kompetitif. Ketiga, perkembangan warung internet (warnet) yang semakin banyak hingga ke pelosok daerah (Rochimah dan Junaedi, 2013: 48). Selain itu juga dapat dilihat dari jumlah penggunanya yang semakin meningkat. Berdasarkan data dari situs Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) (2018) populasi netter atau pengguna internet di Indonesia pada 2017 tercatat sebanyak 143,26 juta orang. Hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat kini telah melek media.

2.    Rumusan Masalah

Bagaimana strategi literasi media yang efektif terhadap masyarakat

3.    Tujuan

Agar masyarakat mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi

 

 

 

BAB II

Pembahasan

1.       Pengertian Literasi Media

Pengertian literasi media adalah kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan informasi dalam berbagai bentuk media. Literasi media merupakan seperangkat perspektif yang digunakan secara aktif saat mengakses media masa untuk menginterpretasikan pesan yang di hadapi.

Meskipun beragam definisi tentang literasi media telah dikemukakan oleh banyak pihak, namun secara garis besar menyebutkan bahwa literasi media berhubungan dengan bagaimana khalayak dapat mengambil kontrol atas media. Literasi media merupakan skill untuk menilai makna dalam setiap jenis pesan, mengorganisasikan makna itu sehingga berguna, dan kemudian membangun pesan untuk disampaikan kepada orang lain.

Intinya adalah literasi media berusaha memberikan kesadaran kritis bagi khalayak ketika berhadapan dengan media. Kesadaran kritis menjadi kata kunci bagi gerakan literasi media. Literasi media sendiri bertujuan untuk, terutama, memberikan kesadaran kritis terhadap khalayak sehingga lebih berdaya di hadapan media.

Art Silverblatt menekankan pengertian literasi media pada beberapa elemen, di antaranya: (1) kesadaran akan pengaruh media terhadap individu dan sosial; (2) pemahaman akan proses komunikasi massa; (3) pengembangan strategi untuk menganalisis dan mendiskusikan pesan media; (4) kesadaran bahwa isi media adalah teks yang menggambarkan kebudayaan dan diri kita sendiri pada saat ini; dan (5) mengembangkan kesenangan, pemahaman, dan penghargaan terhadap isi media. Kelima elemen Silverblatt ini kemudian dilengkapi oleh Baran dengan pemahaman akan etika dan kewajiban moral dari praktisi media; serta pengembangan kemampuan produksi yang tepat dan efektif.

Gambar di atas menjelaskan bahwa media memengaruhi produser maupun khalayak, pun sebaliknya. Media memengaruhi pikiran produser tentang produksi media. Sementara produser juga mengkonstruksikan isi media. Media memengaruhi khalayak dalam level sosial dan individual. Meski demikian, khalayak memiliki kemampuan untuk meng-handle media. Kemampuan tersebut berkaitan dengan bagaimana memilih media yang tepat, mengatur penggunaan media, kemampuan untuk memobilisasi media, serta bagaimana menginterpretasikan isi media. Literasi media bergerak dalam keempat hubungan di atas.

2.       Tujuan Literasi Media

Silverblatt juga menyebutkan ada empat tujuan literasi media, yaitu kesadaran kritis, diskusi, pilihan kritis, dan aksi sosial.  Namun kesadaran kritis yang paling utama memberikan manfaat bagi khalayak untuk mendapat informasi secara benar terkait coverage media dengan membandingkan antara media yang satu dengan yang lain secara kritis; lebih sadar akan pengaruh media dalam kehidupan sehari-hari; menginterpretasikan pesan media; membangun sensitivitas terhadap program-program sebagai cara mempelajari kebudayaan; mengetahui pola hubungan antara pemilik media dan pemerintah yang memengaruhi isi media; serta mempertimbangkan media dalam keputusan-keputusan individu.

 

Kesadaran kritis khalayak atas realitas media inilah yang menjadi tujuan utama literasi media. Ini karena media bukanlah entitas yang netral. Ia selalu membawa nilai, baik ekonomi, politik, maupun budaya. Keseluruhannya memberikan dampak bagi individu bagaimana ia menjalani kehidupan sehari-hari.

Literasi media hadir sebagai benteng bagi khalayak agar kritis terhadap isi media, sekaligus menentukan informasi yang dibutuhkan dari media. Literasi media diperlukan di tengah kejenuhan informasi, tingginya terpaan media, dan berbagai permasalahan dalam informasi tersebut yang mengepung kehidupan kita sehari-hari.

Untuk itu, khalayak harus bisa mengontrol informasi atau pesan yang diterima. Literasi media memberikan panduan tentang bagaimana mengambil kontrol atas informasi yang disediakan oleh media. Semakin media literate seseorang, maka semakin mampu orang tersebut melihat batas antara dunia nyata dengan dunia yang dikonstruksi oleh media.

Orang tersebut juga akan mempunyai peta yang lebih jelas untuk membantu menentukan arah dalam dunia media secara lebih baik. Pendeknya, semakin media literate seseorang, semakin mampu orang tersebut membangun hidup yang kita inginkan alih-alih membiarkan media membangun hidup kita sebagaimana yang media inginkan.

James Potter menekankan bahwa literasi media dibangun dari personal locus, struktur pengetahuan, dan skill. Personal locus merupakan tujuan dan kendali kita akan informasi. Ketika kita menyadari akan informasi yang kita butuhkan, maka kesadaran kita akan menuntun untuk melakukan proses pemilihan informasi secara lebih cepat, pun sebaliknya.  Struktur pengetahuan merupakan seperangkat informasi yang terorganisasi dalam pikiran kita. Dalam literasi media, kita membutuhkan struktur informasi yang kuat akan efek media, isi media, industri media, dunia nyata, dan diri kita sendiri. Sementara skill adalah alat yang kita gunakan untuk meningkatkan kemampuan literasi media kita.

Menurut James Potter, ada 7 keterampilan (skill) yang dibutuhkan untuk meraih kesadaran kritis bermedia melalui literasi media. Ketujuh keterampilan atau kecakapan tersebut adalah:

1.       Kemampuan analisis menuntut kita untuk mengurai pesan yang kita terima ke dalam elemen-elemen yang berarti.

2.       Evaluasi adalah membuat penilaian atas makna elemen-elemen tersebut.

3.       Pengelompokan (grouping) adalah menentukan elemen-elemen yang memiliki kemiripan dan elemen-elemen yang berbeda untuk dikelompokkan ke dalam kategori-kategori yang berbeda.

4.       Induksi adalah mengambil kesimpulan atas pengelompokan di atas kemudian melakukan generalisasi atas pola-pola elemen tersebut ke dalam pesan yang lebih besar.

5.       Deduksi menggunakan prinsip-prinsip umum untuk menjelaskan sesuatu yang spesifik.

6.       Sintesis adalah mengumpulkan elemen-elemen tersebut menjadi satu struktur baru.

7.       Abstracting adalah menciptakan deskripsi yang singkat, jelas, dan akurat untuk menggambarkan esensi pesan secara lebih singkat dari pesan aslinya.

 

BAB III

Penutup

Kesimpulan

Masyarakat Indonesia masih perlu meningkatkan literasi media digital di zaman serba modern ini untuk menunjang kehidupan bersosialnya sehari hari.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar